Oleh: johnadisubrata | Oktober 10, 2009

Tetapi … Engkau Tidak!

Oleh: John Adisubrata

MenyesalPerkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11)

Beberapa hal yang bisa terjadi di sekitar kita mempunyai kuasa sebesar setiap perkataan yang kita ucapkan tepat pada waktunya. Di lain pihak, kata-kata yang tidak diutarakan pada setiap kesempatan itu, jika waktunya telah berlalu, akan membuat kita menyesalinya seumur hidup. Keharmonisan hidup pasangan-pasangan suami istri sering kali menjadi berkurang, oleh karena mereka tidak menerapkan saran yang amat penting ini.

Di dalam hidup berumah-tangga umat Tuhan dianjurkan untuk selalu saling mengalah, saling menghormati, saling menghargai, dan terutama mengasihi pasangan-pasangan hidup mereka, seperti yang diperintahkan oleh-Nya di Kolose 3:19, 1 Petrus 3:1,7 dan di Titus 2:4,5. Tetapi keangkuhan sikap manusia sering kali menyebabkan mereka menolak untuk melaksanakannya. Sikap yang tidak mau mengalah, tidak mau kelihatan lemah, … mempengaruhi mereka untuk mengabaikan setiap tindakan ‘bijak’ yang patut dipuji, yang sudah dilakukan oleh pasangan-pasangan mereka.

Sahabat kami yang sering kali dengan suaminya saling menjatuhkan nama baik sendiri di depan umum melalui lontaran-lontaran komentar yang sinis, berpendapat, bahwa jika ia membenarkan nasehat suaminya yang pada awalnya tidak ia setujui, akan membuat ‘kepalanya menjadi besar’. Padahal di luar pengetahuan suaminya, ia mengakui dengan terus terang kepada kami setelah melihat hasilnya, bahwa saran tersebut ternyata betul sekali dan lebih menguntungkan ekonomi keluarganya. Kejadian seperti itu sering kali terulang, di mana secara bergantian, tanpa mau mengalah, mereka berusaha untuk saling mempermalukan di depan orang-orang. Saling menyindir menggunakan kata-kata yang pedas, mulai dari paras, bentuk tubuh, sampai karakter dan kelakuan masing-masing. Bahkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu diketahui oleh umum, menjadi terbongkar gara-gara itu.

Seandainya saja mereka saling mengindahkan, saling menghargai pendapat, dan terutama saling mengasihi, … jika perlu saling memuji di setiap kesempatan yang ada, saya jamin, perang dingin yang sudah lama mencuri damai sejahtera kehidupan rumah tangga mereka pasti berakhir! Karena … di suatu ketika, jika saat mereka tiba untuk berpisah selama-lamanya, saya yakin, yang ditinggal mati akan menyesali tindakan-tindakannya yang keliru tersebut. Seperti ungkapan sebuah pepatah: Nasi sudah menjadi bubur, … ia juga sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya!

Raja Salomo memberi nasehat: Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya!” (Amsal 15:23) Sebelumnya, di bagian kitab yang sama, ia menulis: “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” (Amsal 12:25) Selain itu nabi Yesaya juga menganjurkan, agar kita mempunyai lidah seorang murid, supaya dengan perkataan kita dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. (Yesaya 50:4)

Saya pernah membaca catatan singkat sangat mengharukan yang diambil dari buku harian seorang wanita. Ungkapan hatinya dalam bentuk sebuah surat yang ditujukan secara pribadi kepada suaminya, dibacakan olehnya sendiri pada suatu upacara yang amat penting:

Aku teringat ketika aku mengendarai mobilmu yang masih baru, yang oleh karena keteledoranku telah hancur di jalan raya. Aku mengira engkau akan menunjukkan wajah geram tidak percaya, dan menyumpahi diriku. Tetapi … engkau tidak!

Aku teringat ketika aku memaksamu untuk pergi bersamaku ke pantai. Engkau menolak, karena engkau tahu hari itu hujan deras akan turun. Akhirnya kita pergi, dan ternyata engkau benar! Aku merasa begitu yakin, bahwa engkau tidak akan berdiam diri dan akan menegur aku dengan keras: “Apa kataku!” Tetapi … engkau tidak!

Pernah sekali aku menumpahkan segelas blueberry juice di atas jas putihmu yang masih baru. Aku tahu engkau marah dan menyalahkan tingkah-lakuku yang keterlaluan. Tetapi … engkau tidak!

Masih ingatkah engkau pada saat kita pergi ke pesta reuni sekolah kita malam itu? Aku keliru ketika menganjurkan agar engkau berpakaian casual saja. Engkau hadir hanya mengenakan celana jeans dan baju T Shirt biasa, yang membuat engkau menjadi salah tingkah sekali! Aku tahu engkau merasa tidak senang dan ingin lari ke luar seketika itu juga untuk meninggalkan aku seorang diri di sana. Tetapi … engkau tidak!

Aku berhasrat untuk mengutarakan isi hatiku kepadamu, bagaimana aku mencintaimu dan … menghargai semua yang telah engkau lakukan itu, jika engkau tiba kembali dari tugas militermu di Afghanistan. Tetapi … engkau tidak!

Raja Salomo pernah berkata: Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.” (Pengkhotbah 3:1) Ia meneruskannya di pasal yang sama: “… ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; …” (Pengkhotbah 3:7b)

Memang benar, segala sesuatu ada waktunya. Tetapi kenyataan lain yang juga harus diketahui: Masa-masa itu ada batasnya! Apabila telah berlalu, kesempatan yang ada tersebut juga akan hilang untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, janganlah sampai kita melewatkan waktu kelak dengan menyesalinya seumur hidup, sebab kita sudah memendam di dalam hati kita kata-kata tak terucapkan, yang seharusnya didengarkan oleh orang-orang yang pada waktu itu sangat membutuhkannya.

Janganlah sekali-kali mengabaikan arti ayat ini: Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.” (Amsal 16:24)

Oleh karena itu, … menunggu apa lagi, katakanlah sekarang juga kepada pasangan, anak-anak, keluarga, bahkan sahabat-sahabat anda, kata-kata yang memang sudah menjadi hak mereka dari semula! Janganlah menunggu sampai Tuhan harus menegur anda dengan keras: “Umat yang Kupilih bersedia merendahkan diri dan melakukannya, TETAPI … ENGKAU TIDAK!

John Adisubrata
October 2009


Tanggapan

  1. Tulisannya bagus2. Dua bulan lalu saya pertama kali baca testi yg Ian McCormack, Trus barusan baca bbrapa testi lainnya. Dipromosiin pake FB juga gak? Kynya FB manjur buat ngundang banyak pembaca. Ato kasi icon share FB. Just an idea, biar lebih banyak orang yg bs nikmatin :) Gbu keep up the good work!

  2. Thanks Hen, anjurannya perlu diterapin nih. Sayangnya, FB masih belum punya. Kalo kasi icon share FB caranya gimana yah? Makasih untuk samperannya.

    God bless you always. 8)

  3. FB klo ga mo bikin buat pribadi, bs bkin fan page, kaya fans page Kisah-kisah Kreatif yg uda punya 44,447 fans
    Klo share, saya jg baru coba2 pake
    http://www.addtoany.com/
    Saya lagi belajar nulis, nih, klo ada tips bagi2 ya :)
    Gb!

  4. Hen, saya cari Kisah-kisah Kreatif kok ga bisa ketemu, yah? Fans page itu kayak apa sih? Addtoany.com udah saya kunjungi. Mau melajarin dulu, lihat yang mana yang bisa dipake.

    Bisa gak saya mampir ke blog-mu? Tentang tips, lihat-lihat dulu lah. Jangan-jangan nanti malahan saya yang butuh tips dari kamu! :)

    Thanks sekali lagi. Tuhan memberkati selalu.

  5. Oops, maaf, Pak John, yang benar “Kisah-kisah Inspiratif”. Fans page itu mirip sama profile biasa, cuma bisa nampung sampai jutaan members n membersnya juga bisa bantu2 invite others.
    Soal share button, search2 lagi aja juga, mungkin ada opsi button yg lebih simple n manis.

    Blog saya banyak yg gak keurus n jarang diupdate, bberapa hari yg lalu baru iseng coba2 bikin blog freebies, buat latihan ngeblog.

    God bless!

  6. Saya sudah mengunjungi Kisah-Kisah Inspiratif. Apakah betul cuman FB doang? Saya cari yang lain, seperti WP atau BS kok ga ada. Memang benar, fans-nya banyak sekali. Aktif semua lagi! Saya ga tahu kalo bisa bikin FB tanpa pake nama orang, tapi nama blog.

    Saya juga sudah mampir ke blog-mu. Jadi Hen tinggal di AS toh?

    Thanks atas ide-ide-nya yah. Masih melajarin terus. Mungkin harus join FB aja dulu, seperti Kisah-Kisah Inspiratif. Entah bisa ga, soalnya misinya ga sama sih. GBU. :)

  7. Makasi kujungannya, commentnya di situ jg uda saya baca. Iya saya tgl di US, klo dr jkt telat 12 jam, sama AU 9 jam-an kali?:).

    KKI itu kynya emang ada di FB doang, yg bikin kynya bbrapa orang katholik, n mreka msgnya comot sana-sini, ky dr milis or internet n kiriman members.

    Bener, join FB dulu biar familiar, n untuk jd member group or fans page di FB yg buat publik cukup 1 klik aja, gak perlu approval2.

    Btw boleh bagi alamat emailnya? Mo tanya2 ttg tulis-menulis, enakan via email kali hehe.
    Or email saya asianblingbling@gmail.com

    Oh ya klo mo bikin fans page FB, di kanan bawah bagian login ada “Create a Page for a celebrity, band or business”. Gbu!

  8. Udah saya hubungin lewat e-mail. Bisa ‘ngobrol lewat situ, tapi juga bisa lewat sini. Kalo ada yang bagus dan menarik, yang bisa bantu orang lain, mari kita bahas di sini atau di blog-mu. Yang personal, ya lewat e-mail aja.

    Thanks untuk bantuan dan perhatiannya. Saya sudah pelajari lebih dalam tentang FB. Dulu agak kuatir dengan FB, sebab menurut teman-teman, data diri kita yang terlampau detil tidak bisa dihapus lagi jika kita mau keluar dari sana. Kelihatannya sekarang peraturannya udah diubah. Data diri yang diminta tidak terlampau ‘njelimet lagi. 8)

    Tuhan memberkati selalu.

  9. shalom bro John,

    lama tidak melawat blog ini,waktunya saya membaca blog yang ini menyentuh sekali,thanks ya.

    Bro…ada sekali itu saya invite bro dalam fb saya,sampai sekarag tiada jawabanya,fb tidak ada ruang utk blog cuma ada ruang ngoborol2 dgn sahabat2 worlwide and relatives juga.

    saya invite lagi sekali ya bro..gbu

  10. Dear Ibu Yunie

    Senang sekali berjumpa lagi. Saya sampai merasa amat kehilangan, nih. Terima kasih atas kunjungannya.

    Tentang undangan Ibu Yunie (saya kira bukan FB), beberapa kali sudah saya coba, tetapi selalu diminta agar saya menjadi anggota dulu, baru bisa melihat foto-foto Ibu Yunie. Karena waktu itu saya belum, jadi tidak bisa masuk. Entah program apa, … saya lupa.

    Benar Bu, setiap kali menerima undangan serupa, baik dari Ibu Yunie maupun saudara-saudara seiman lainnya, saya selalu diharuskan untuk gabung dulu. Awalnya saya mengira, bahwa undangan itu tidak personal, hanya by default saja, karena mereka tahu alamat e-mail saya dan orang-orang yang juga mempunyainya. Gara-gara banyak undangan seperti itu dikirimkan kepada saya, bahkan dari orang-orang yang tidak saya kenal pribadi. Hanya oleh karena kami adalah anggota-anggota sebuah milis kristiani di Indonesia. Tidak pernah berhubungan atau berdiskusi, tiba-tiba terima undangan dari mereka dari program yang sama (Bukan FB). Oleh karena itu saya agak kurang menanggapinya.

    Yang dari Ibu Yunie saya sudah coba beberapa kali setiap kali diundang. Tapi saya kira bukan FB. Mohon Ibu kirim kembali lewat e-mail address saya, nanti saya coba lagi. Thanks. Tuhan memberkati selalu. :)

    Syalom.

  11. Dear Ibu Yunie

    Saya sudah mampir ke FB-nya, dan sudah melihat foto Ibu dengan seorang anak perempuan di dalam rumah. Juga sudah kirim message. :D Tuhan memberkati selalu.

    Syalom.


Beri tanggapan

Your response:

Kategori